Ikatan Alumni Keluarga Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir
Ikatan Alumni Keluarga Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir
Pendidikan

IKANU: Kita Dukung Tagar Positif, Tagar Negatif Kita Perangi!

Demokratisasi di Era Reformasi telah membuka kanal-kanal baru bagi munculnya otoritas agama dan politik baru. Aktor-aktor baru muncul dan ikut berkontestasi dalam mengartikulasikan Islam dan perannya dalam tatanan politik dan kenegaraan. Otoritas baru ini sangat aktif dalam mengkonsolidasikan kekuatan dan siap mengisi ruang-ruang yang ditinggalkan atau belum digarap oleh kelompok arus utama Islam Indonesia. Tensi dan konflik dengan kelompok arus utama terjadi karena otoritas baru yang mempunyai akar Islam transnasional ini tidak memiliki komitmen politik kebangsaan yang mengapresiasi pluralitas budaya bangsa, keadaban publik, dan demokrasi substansial.

Dalam konteks ini, IKANU (Ikatan Alumni Keluarga Nahdlatul Ulama Al-Azhar Mesir) perlu mengambil sikap dan langkah-langkah strategis untuk memperkuat politik kebangsaan. Beberapa hal yang dapat dirumuskan menjadi strategi pergerakan IKANU adalah sebagai berikut:

  1. Menyeru kepada seluruh elemen bangsa, tanpa memandang ras, suku, partai, ormas untuk menghadang hate spin, rekayasa kebencian berbasis agama untuk kepentingan politik yang mengancam persaudaraan sesama anak bangsa.
  2. Mendorong seluruh elemen bangsa untuk mendukung upaya penguatan NKRI sebagai kedaulatan politik yang disepakati dan menanggulangi ancaman-ancaman yang berpotensi melemahkannya.
  3. IKANU mendesak elit politik untuk tidak memanfaatkan kelompok dan gerakan apapun yang mengancam NKRI untuk kepentingan politik sesaat.
  4. Ukhuwwah wathaniyyah atau persaudaraan sesama anak bangsa dan kemaslahatan Indonesia harus menjadi kerangka kerja yang disepakati oleh seluruh warga negara dalam kompetisi politik apapun.
  5. Bangsa Indonesia harus menjadi contoh bagi negara-negara dunia dan Muslim khususnya dalam berdemokrasi. Demokrasi harus dipahami sebagai prinsip yang menghormati kebebasan individu dan kelompok dalam hal apapun selama tidak melanggar, mencederai dan mengancam hak dan kebebasan individu dan kelompok lain. Seorang ahli politik perancis, Montesqiueu, pernah mengatakan, “al-hurriyah hiya ma yasmah bihi al-qanun“.
  6. Pemilu 2014 telah membelah bangsa Indonesia dalam–setidaknya- 2 kelompok besar politik dan keagamaan yang efeknya dapat dirasakan hingga sekarang: merebaknya intoleransi dan hate spin serta menguatnya otoritarianisme mayoritas dan konservatisme agama. Oleh karena itu, IKANU mendesak proses politik dengan puncaknya pada 2019 harus berakhir dengan konsensus nasional, yaitu persaudaraaan sebangsa dan setanah air.
  7. IKANU menghimbau segenap elemen bangsa untuk mendukung tagar-tagar yang positif, tagar yang mendorong persaudaraan dan menghimbau untuk menjauhi tagar-tagar yang berpotensi memecah belah elemen-elemen bangsa.

IKANU PP.  Baitul Kilmah III Yogyakarta, 01 September 2018

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement