kh cholil bisri
Opini

Gus Yahya Lahir dari Pemikiran KH Cholil Bisri dan KH Bisri Mustofa

M Rikza Chamami, Wakil Sekretaris PW GP Ansor Jateng & Dosen UIN Walisongo

Saat Gus Yahya menyebut kata rahmah, kata itu yang pernah kudengar dari Abahnya, KH Cholil Bisri 12 tahun silam. Mbah Cholil menjelaskan di atas panggung yang dihadiri ribuan orang seperti ini:

اختلاف الائمة رحمة

Dengan bahasa yang enak dan simpel Mbah Cholil memaknai: “Perbedaan pemimpin itu manivestasi”. Saat itu saya tidak paham arti manivestasi. Dan ternyata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya: perwujudan sebagai suatu pernyataan perasaan atau pendapat; perwujudan atau bentuk dari sesuatu yang tidak kelihatan.

Jadi rahmah itu memang bermakna cukup mendalam. Bahwa sikap manusia dalam menghadapi perbedaan itu butuh perasaan dan perdapat. Dan tertunya karena sudah berbeda, maka perasaan dan pendapat itu membutuhkan bentuk yang tidak kelihatan, yakni kasing sayang—saling memahami.

Bagaimana kalau melihat arti rahmah menurut Simbahnya Gus Yahya, KH Bisri Mustofa? Saya coba membuka koleksi kitab-kitab karya Mbah Bisri di almari perpustakaan saya. Kebetulan saya sedang menulis Disertasi yang membahasa KH Bisri Mustofa. Jadi hampir ada 50-an judul kitab yang saya miliki.

Mbah Bisri Mustofa menulis dalam Tafsir Al Ibriz halaman 1052 yang membahas mengenai Surat Al Anbiya’ ayat 107 juz 17:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Artinya: “Ingsun Allah ora ngutus marang siro Muhammad, kejobo dadi rahmat tumerap sekabehane alam; Saya tidak mengutus Muhammad, kecuali menjadi rahmat bagi semua alam semesta”.

Tidak hanya cukup disitu saja. Mbah Bisri Mustofa masih memberikan penjelasan sebagai berikut:

“Tanbihun: Kang tompo rohmat sebab wujude Nabi Muhammad iku ora namung wong-wong mukmin yang shalih-shalih, nanging ugo wong-wong kafir lan wong fajir. Jalaran naliko Kanjeng Nabi disawati watu dening kaume, naliko Kanjeng Nabi ditekek lan disuki telethong denin kaume, lan liyo-liyone maneh upomo naliko iku Kanjeng Nabi ora nyuwun marang Pengeran: Allahummahdi qaumi fainnahum la ya’lamun. Menawi kaume wus ditumpes kabeh. Ono kang disirnaake, ana kang dibusek, dadi kethek utowo dadi babi lan liya-liyane, koyo kaume Nabi-Nabi sak durunge Nabi Muhammad”.

Sudah jelas ya kalau begitu? Bisa dipahami? Atau masih butuh diterjemah dalam Bahasa Indonesia? Ya sudah deh… saya terjemah bebas saja kalau begitu. Daripada saya diprotes nanti.

“Peringatan: Yang menerima rahmat atas keberadaan Nabi Muhammad itu tidak hanya orang beriman yang shalih saja. Tapi juga orang kafir dan orang yang berbuat keji (juga dapat rahmat). Sebab ketika Nabi dilempar batu, dicekik, dilempari kotoran binatang dan (gangguan dakwah) lainnya oleh kaumnya. Nabi justeru berdo’a: “Ya Allah berikanlah hidayah pada kaumku karena merka tidak tahu menahu”. Maka kaumnya Nabi Muhammad tidak ditumpas semuanya. Kaumnya tidak dihilangkan, dicuekkan dan jadi kera atau babi sebagaimana kaum Nabi sebelum Muhammad”.

Dalam Tafsir Jalalain karya Syaikh Imam Jalaluddin Al Mahalli dan Syaikh Imam Jalaluddin Al Suyuthi—yang diajarkan Gus Yahya ngaji di Pondok Rembang—juga dijelaskan bahwa:

﴿وما أرسلناك﴾ يا محمد ﴿إلا رحمة﴾ أي للرحمة ﴿للعالمين﴾ الإنس والجن بك

Ini menegaskan bahwa tugas Nabi Muhammad dan umatnya adalah memberikan perlindungan sosial dan psikologis. Dan ternyata rahmat untuk alam semesta juga diperuntukkan bagi manusia dan jin. Kenapa demikian? Sebab Nabi Muhammad menegaskan dalam haditsnya sebagaimana ditulis dalam penjelasan Tafsir At Tanwir Wat Tanwir oleh Ibnu ‘Asyur dalam membedah isi Surat Al Anbiya’ ayat 107:

ويَدُلُّ لِهَذا المَعْنى ما أشارَ إلى شَرْحِهِ النَّبِيءُ ﷺ بِقَوْلِهِ إنَّما أنا رَحْمَةٌ مُهْداةٌ وتَفْصِيلُ ذَلِكَ يَظْهَرُ في مَظْهَرَيْنِ: الأوَّلُ تَخَلُّقُ نَفْسِهِ الزَّكِيَّةِ بِخُلُقِ الرَّحْمَةِ، والثّانِي إحاطَةُ الرَّحْمَةِ بِتَصارِيفِ شَرِيعَتِهِ

Membaca Gus Yahya tidak cukup disitu saja. Sebab setiap hari Gus Yahya ngaji beberapa Kitab Kuning: Alfiyyah karya Ibnu Malik dan Tanqihul Qaul karya Imam Nawawi Al Bantani (setiap shalat Maghrib) dan mengaji dengan kasepuhan Kitab Irsyadul ‘Ibad karya Syaikh Zainuddin Al Malibari. Dan masih banyak Kitab Kuning lainnya.

Khazanah tentang rahmah dalam kitab-kitab tersebut sangat luas dikupas. Sebut saja Kitab Irsyadul ‘Ibad yang berisi 114 topik pembahasan dengan jumlah 120 halaman. Isinya sangat luar biasa. Di dalamnya berisi pembahasan Islam yang rahmah yang tersaji dengan materi keramahan. Pokoknya membahas Kitab Kuning pasti kita akan semakin rindu.

Oleh sebab itu, melihat Gus Yahya biarlah menjadi Gus Yahya yang masih muda dan bergelora keilmuannya. saya cukup membaca Gus Yahya sebagai bagian mutiara ilmu yang tidak lepas dari Abah dan Simbahnya. Gus Yahya adalah cerminan kilauan ilmu Syaikh Jalaluddin, Syaikh Zainuddin, Imam Ibnu Malik dan Imam Nawawi—yang secara mudah kita sebut kilauan permata pesantren.

Menyebarkan ilmu itu harus penuh ramah. Jangan malah suka marah-marah. Kalau suka marah-marah itu namanya bid’ah, sebab Nabi tidak suka marah-marah. Hayo…. pilih mana?

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement