Wawancara

Gus Rozin : Kiai Sahal dan Gus Mus Punya Kesamaan Visi untuk NU

dsc_0245

KH. Abdul Ghafar Rozin atau yang akrab dipanggil Gus Rozin adalah putra dari Kiai Sahal. Gus Rozin saat ini menjadi Ketua Robithoh Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PBNU, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Matholi’ul Falah (STAIMAFA) Pati dan Pengasuh Pesantren Maslahul Huda Kajen Pati. Seperti apakah Gus Rozin melihat Kiai Sahal dan Gus Mus? Berikut ini petikan wawancaranya.

Apak Mbah Sahal memiliki langkah-langkah memajukan pesantren, Gus?

Banyak ya. Saya sepakat yang disampaikan Mas Ulil tadi bahwa Kiai Sahal itu ahli di berbagai bidang. Terutama di bidang pesantren itu out of the box. Secara pengelolaan pesantren, saya juga pernah mondok di beberapa pesantren ya, sangat berbeda pengelolaannya di banding dengan pesantren-pesantren lain.  Artinya kepengurusan pesantren itu tidak tersentral kepada pengasuh. Di pesantren Kiai Sahal itu kiai tetap memegang otoritas tertinggi. Tetapi Kiai Sahal mendelegasikan hampir 100 persen otoritasnya kepada para pengurus dan tidak tersentral kepada Kiai Sahal.

Jika demikian, sistem kepengurusannya seperti apa, Gus?

Di pesantren Kiai Sahal itu sistem kepengurusan tidak seperti di pesantren lain, seperti ada lurah atau ketua pondok. Kita memakai sistem presidium. Ada satu ketua presidium yang bertanggung jawab mengenai semua kepengurusan atau presidium ini mengkoordinir 6 presidium yang lain. 6 presidium ini ada tiga pasang yang mempunyai tugas berbeda-beda.

Pada catur wulan pertama, presidium satu yang dua orang menjadi ketua. Presidium dua menjadi sekretaris dan bendahara dan presidium ketiga menjadi keamanan. Pada catur wulan kedua itu diputar. Presidium satu menjadi sekretaris dan bendahara. Presidium dua menjadi ketua. Pokoknya diputar ya. Sehingga satu tahun itu semua mengalami perputaran.

Menurut Panjenengan apakah hal tersebut termasuk kemajuan pesantren?

Saya kira kemajuan pesantren mengalami pasang surut. Tetapi bahwa hal tersebut menunjukkan kaderisasi yang baik. Bahwa seorang santri itu harus memiliki kemampuan tidak hanya satu. Tidak hanya kemampuan kepemimpinan satu saja. Tetapi juga kemampuan keadministrasian, kemampuan akuntabilitas dan kemampuan ngemong. Dan dalam satu tahun itu enam orang ini berganti posisi.

Pasca wafatnya Kiai Sahal, jabatan Rais Aam dipegang oleh Gus Mus. bagaimana pendapat panjenengan?

Saya kira sangat tepat. Satu, karena sebetulnya kalau kita mau jujur tidak banyak kiai yang memiliki kapasitas seperti Gus Mus, baik dalam hal keilmuan, ketokohan dan wawasan kebangsaan. Tetapi dalam waktu yang sama beliau bersedia untuk menjaga jarak terhadap politik praktis. Dan itu tidak banyak kiai yang memosisikan dirinya seperti itu. Gus Mus adalah salah satunya. Yang kedua, Kiai Sahal dan Gus Mus itu teman akrab yang sedemikian lama bergaul. Semenjak di Jawa tengah kemudian di Jakarta. Sehingga saya kira Kiai Sahal sangat mengenal karakter Gus Mus. Kiai Sahal dan Gus Mus itu tidak sama. Sangat berbeda. Tetapi visinya mengenai keorganisasian visinya mengenai NU mirip. Keduanya mempunyai visi yang sama untuk NU masa depan. Gayanya berbeda, pembidangannya sedikit berbeda. Tetapi visinya mengenai NU sama. Kiai Sahal sudah sangat lama mengenal Gus Mus, demikian sebaliknya.

Sebagai anak dari Kiai Sahal, bagaimana panjenengan melihat hubungan antara Kiai Sahal dan Gus Mus?

Dari awal saya katakan Gus Mus memiliki kadar ketokohan yang sangat tinggi. Saya kira ketokohannya tidak di bawah Kiai Sahal. Tetapi Gus Mus selama ini orang yang tawadu’ ya. Kiai Sahal itu secara umur lebih tua dan  Gus Mus itu beberapa kali menjadi Katibnya. Ada semacam unggah ungguh sehingga Gus Mus kemudian tidak berdiri di depan Kiai Sahal. Ketika Kiai Sahal menjadi Rais Aam, Gus Mus disuruh menjadi wakil Rais Aam. Itu etika antar kiai lah. Tetapi dari sisi ketokohan, kalau saya melihat ketokohan Gus Mus tidak kalah dengan ketokohan Kiai Sahal.

Apakah Gus Mus mampu melanjutkan visi misi Kiai Sahal, baik dalam ranah dunia pesantren dan NU?

Saya kira Gus Mus sangat mampu dan sangat capable untuk menjiwai apa yang selama ini dipegang oleh Kiai Sahal di dalam ke-NU-an. Kiai Sahal dan Gus Mus itu bersama-sama menerjemahkan dan menyusun ensiklopedia ijma’ yaitu ensiklopedia mengenai ijma’ para ulama atau kesepakatan para ulama. Kemudian, dari sisi fiqh sosial, Gus Mus tidak mempunyai. Tetapi dengan istilah yang berbeda, Gus Mus mempunyai konsep yang relatif sama yang kemudian disebut dengan istilah shalih sosial, kan begitu ya. Itu kan hampir-hampir sama dengan fiqh sosialnya Kiai Sahal to. Bahwa manusia itu harus beribadah terus menerus, tetapi juga jangan lupa kepada sesama.

Bagaimana kedekatan Kiai Sahal dan Gus Mus dengan jama’ah NU dan rakyat Indonesia?

Saya kira Gus Mus memiliki kedekatan dengan rakyat kecil, apalagi jama’ah NU. Gus Mus juga memiliki kedekatan dengan kalangan pesantren. Gus Mus memiliki pandangan yang komprehensif terhadap bagaimana sebaiknya sebuah bank itu dibangun. Memang perbedaannya itu mempunyai tinggalkan real ya. Dalam konteks pemberdayaan masyarakat Kiai Sahal dan pesantren menjadi sebuah lembaga yang turut serta dalam pemberdayaan masyarakat. Tapi Gus Mus melalui majmu’ buhusnya, melalui pesantrennya itu kan memiliki konsep yang sama juga. (Rokhim)