kiai ishom PBNU
Wawancara

Gus Ishom: Jangan Gampang Mengkafirkan Sesama!

Maraknya fenomena pengkafiran terhadap sesama muslim saat ini, tentunya membuat kita merasa prihatin. Pengkafiran terhadap sesama muslim berarti melecehkan kehormatannya, menghalalkan hartanya dan bahkan boleh menumpahkan darahnya. Apalagi di era media sosial sekarang ini, orang mudah sekali menyalahkan amaliyah ibadah sesama.  Pengkafiran itu sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perpecahan, mengakibatkan rusaknya hubungan harmonis antara sesama  manusia.

Dalam konteks inilah, redaksi mewawancarai salah satu Rais Syuriah PBNU, KH Ahmad Ishomuddin. Bagi Gus Ishom, panggilan akrabnya, pengkafiran terhadap sesama  muslim diharamkan manakala tidak didapati indikasi yang pasti dan jelas. Maka dari itu, lanjut Gus Ishom, umat Islam harus waspada dan selalu bertanya kepada ulama. Berikut wawancara selengkapnya!

Bagaimana kiai melihat fenomena takfir selama ini?   

Sebelum saya menjawab fenomena merebaknya  takfir, perlu dijelaskan pengertian takfir terlebih dulu, baik secara bahasa maupun istilah.  Secara etimologi berarti al-satru wa al-taghthiyyah (menutupi). Dalam Qs. Al-Hadid ayat 22 Allah berfirman:

كمثل غييث أعجب الكفار نبته

“seperti hujan yang membuat para petani kagum pada tanamannya”.

Dalam ayat ini, para petani disebut al-kuffar  karena mereka menutupi benih yang disemai dengan tanah. Menurut bahasa Arab kata al-takfir adalah akar kata dari kaffara (yakni, ‘addahu kafiran / menuduh orang lain kafir alias pengkafiran).

Sedangkan al-takfir menurut istilah adalah نسبة أحد من أهل القبلة إلى الكفر, yakni menyandarkan seorang yang beragama Islam kepada kekafiran atau mengkafirkan orang Islam.  Al-Kufru (kekafiran) itu sendiri artinya kebalikan dari iman, karena orang kafir  menutupi  dan menyelimuti hatinya dengan kekafiran. Menurut al-Imam al-Ghazali dalam Faishal al-Tafriqah baina al-Islam wa al-Zandaqah,   االكفر هو تكذيب الرسول صلى الله

عليه وسلم في شيء مما جاء به kekafiran (al-kufr) adalah pendustaan terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Maraknya fenomena pengkafiran terhadap sesama muslim saat ini, tentunya membuat kita merasa prihatin. Pengkafiran terhadap sesama muslim berarti melecehkan kehormatannya, menghalalkan hartanya dan bahkan boleh menumpahkan darahnya.  Pengkafiran  itu sangat berbahaya karena dapat menimbulkan perpecahan, mengakibatkan rusaknya hubungan harmonis antara sesama  manusia. Gerakan teror dan pemboman atas nama agama yang terjadi di negara kita adalah contoh konkrit gerakan ekstrim yang diawali oleh pengkafiran terhadap sesama muslim.

Dalam perspektif fikih,  pengkafiran terhadap sesama  muslim diharamkan manakala tidak didapati indikasi yang pasti dan jelas–seperti jelasnya matahari pada siang hari– akan kekafirannya. Karena Allah berfirman: ولا تقولوا لمن ألقى عليكم السلام  لست مؤمنا  (janganlah kalian mengucapkan kepada orang yang mengatakan salam kepadamu (bahwa) kamu bukanlah orang yang beriman) [al-Nisa’: 194]. Sedangkan Rasulullah SAW pun berpesan dalam sabdanya:

من صلى صلاتنا و استقبل قبلتنا و أكل ذبيحتنا فهو مسلم له ما لنا وعليه ما علينا

(siapapun yang shalat seperti shalat kami, menghadap kiblat kami dan menyantap sembelihan kami  maka ia adalah seorang muslim, ia berhak atas apa yang kami dapat dan  dan ia harus menanggung sesuatu seperti yang kami tanggung). (HR. al-Bukhari).

Dalam kesempatan yang berbeda Rasulullah SAW juga menyatakan

, إذا قال الرجل لأخيه يا كافر فقد باء بها أحدهما فإن كان كما قال و إلا رجعت عليه

(apabila ada orang yang mengatakan kepada saudaranya “ya kafir” maka sungguh kekafiran itu akan kembali kepada salah satu dari keduanya jika yang dikafirkan itu sesuai ucapannya, namun jika tidak demikian makan kekafiran itu kembali menimpa orang yang mengatakannya.)” [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Seorang muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya berkewajiban memperhatikan larangan pengkafiran terhadap sesama muslim tersebut  demi mewujudkan rasa persaudaraan dan persatuan.

Banyak yang terburu-buru mengkafirkan, kenapa?

Saat ini amat mudah dijumpai sekelompok orang yang terburu-buru mengkafirkan sesama muslim tanpa alasan yang kuat dan benar menurut Islam. Ucapan tersebut biasanya dengan mudah dilontarkan oleh orang Islam yang semangat beragamanya berlebihan namun tidak sebanding dengan kemampuannya untuk memahami  substansi ajaran Islam yang dianutnya. Beragama dengan bermodalkan semangat dan keikhlasan saja belumlah cukup untuk mengajak manusia ke jalan Allah.

Beragama yang benar harus dimulai dengan tafaqquh fi al-din (memperdalam ilmu agama secara benar) dan mengamalkannya dengan benar sesuai dengan tujuan diutusnya para utusan Allah. Sempitnya wawasan keislaman dan eksklusivitas pergaulan sering membuat pelakunya mengklaim bahwa kebenaran mutlak telah melekat kuat dalam dirinya. Akibatnya,  ia tidak dapat bersikap tasamuh (toleran) siapa pun yang berbeda dengan dirinya, tidak mampu menampilkan sikap yang moderat, berimbang dan tidak pula bersikap adil. Tak pelak ucapan dan perbuatan mereka terhadap sesama muslim  yang kebetulan berbeda dalam penafsiran atau ekspresi keberagamaan seringkali tidak mencerminkan jiwa yang santun dan dipenuhi rasa kasih sayang, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Kita tentu merasa prihatin atas kemunculan segelintir orang yang suka mengkafirkan orang Islam. Apa susahnya mengkafir-kafirkan orang Islam,  padahal yang sulit adalah bagaimana mengislamkan orang-orang kafir  dengan tanpa kekerasan sama sekali, sebagaimana dakwah yang dilakukan oleh wali songo. Jadi, hakekatnya mereka yang senang mengkafirkan itu bukanlah al-da’i ila Allah (penyeru kepada Allah), meskipun secara lahiriah menampakkan ciri-ciri seorang muslim yang sangat taat. Mereka yang suka mengkafirkan sesama muslim pada hakikatnya adalah “para hakim”  yang berwawasan keislaman sempit dan memperturutkan hawa nafsu. Al-Hasan al-Bashri pernah menyatakan, bahwa orang yang bekerja tanpa landasan ilmu itu seperti penempuh jalan Allah (al-salik) tanpa menempuh jalan. Akibat buruk yang ditimbulkannya lebih banyak dari kemaslahatan yang akan diperolehnya.

Bagaimana aswaja memandang itu semua?

Sebagai penganut faham Ahlussunnah wa al-Jama’ah kita umat Islam diwajibkan untuk menghormati para ulama, diwajibkan untuk memiliki akhlak yang mulia dan tentu saja diharamkan untuk menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam.  Dalam kitab al-Farqu bain al-Firaq, Abdul Qahir al-Baghdadi menyatakan bahwa penganut faham Ahlussunnah wal Jamaah itu tidak boleh saling mengkafirkan satu sama lain, perbedaan pendapat tidak meniscayakan sikap pengkafiran dan permusuhan terhadap yang lain. Dengan demikian mereka berusaha menjaga kebersamaan dan persatuan.

Bahkan ulama besar sebelumnya, seperti al-Syaikh Abdul Qadir  al-Jilani dalam karyanya al-Ghunyah mengemukakan agar kita jangan sampai menuduh ahlul-qiblat dengan kekafiran, kemusyrikan atau kemunafikan, karena yang demikian itu lebih dekat kepada rahmat Allah dan merupakan derajat yang tinggi.

Andaikata kita dikafirkan sekalipun oleh mereka yang mudah mengkafirkan, maka tidak santun membalasnya dengan menuduh merekalah yang kafir. Dalam al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an diinformasikan, ketika Sayyidina Ali bin Abi Thalib ditanya tentang kaum oposisi dalam peristiwa perang Jamal dan Shiffin, apakah mereka kaum musyrik? Ali menjawab bahwa  justru  mereka jauh dari kemusyrikan. Ketika ditanya, apakah mereka kaum munafik? Beliau menjawab,” bukan,  karena orang-orang munafik  tidak mengingat Allah kecuali sedikit.” Lalu beliau ditanya lagi, jadi bagaimana mereka itu? Beliau menjawab  : إخواننا بغوا علينا (mereka adalah saudara-saudara kita yang tidak loyal kepada (pemerintahan) kami.”

Ini berarti bahwa perbedaan hasil ijtihad dalam wilayah politik  adalah kewajaran, jadi jangan sampai menjadi alasan untuk saling mengkafirkan. Demikian pula dalam persoalan-persoalan furu’ (fikih).

Adakah konsep takfir itu?

Ahlussunnah wa al-Jama’ah tidak memiliki konsep takfir terhadap aliran lain yang berbeda, sesuai dengan kaidah  لا نكفر أحدا من أهل القبلة بذنب يرتكبه ما لم يستحله (kita tidak memiliki konsep mengkafirkan seorang pun yang beragama Islam disebabkan perbuatan dosanya selama tidak menganggapnya halal).”

Seorang muslim baru boleh dikafirkan bila ucapannya dan atau perbuatannya secara nyata-nyata mengingkari  sesuatu ajaran Islam yang sudah pasti diketahui oleh umat  Islam. Seperti menyatakan bahwa shalat lima waktu itu tidak  wajib, tidak mengakui  bahwa Nabi Muhammad adalah nabi yang terakhir, dan lain-lain.

Bagaimana dengan budaya dan tradisi kita yang selama ini sering dibid’ahkan dan dikafirkan?

Warga NU dengan budayanya yang melekat perlu terus mempertahankan budayanya sepanjang tidak bertentangan dengan syariat Islam ,meski pun ada sebagian orang menuduh mereka sesat , kafir dan bahkan bakal masuk neraka. Dalam hal ini kita warga NU lebih bersikap netral dalam memandang budaya dan bersikap selektif, yakni tidak serta merta menolak warisan budaya. Sesuai kaidah  dalam kitab al-Adab al-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al-Hanbali mengutip pernyataan Ibnu ‘Aqil al-Hanbali dalam al-Funun لا ينبغي الخروج من عادة الناس إلا في الحرام (tidak sepantasnya keluar dari adat kebiasaan orang sekitar kecuali bila adat istiadat itu diharamkan)”.

Bagaimana seharusnya langkah para ulama kita?

Saya berharap para ulama NU dapat saling bekerja sama, bersatupadu dan lebih terorganisir menjaga faham Ahlussunnah wa al-Jama’ah dan melindungi warganya secara terus menerus dari segala faham yang tidak mengedepankan sikap tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), i’tidal  dan tasamuh. Para ulama NU wajib dengan sabar memberikan pencerahan  dan keteladanan dalam bersikap terhadap seluruh umat Islam, khususnya warga NU, dengan  memperhatikan adab-adab dalam berdakwah. (Anas)

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement