Ngaji

Dahulukan Ulama yang Alim dan Hatinya Bersih

blogger-image--1371837754

Oleh : Habib Luthfi bin Yahya

Imam Nawawi berumur lebih muda dari Imam Rafi’i, namun tidak lantas membuat pendapat (qoul) Imam Rafi’i lebih unggul (rajih) dari pada pendapat Imam Nawawi yang lebih muda. Ibnu Hajar Al-Haitamy berkata: “Jika terdapat pendapat yang berbeda antara Imam Nawawi dan Imam Rafi’i, maka pendapat yang dipegang (al-‘ibrah) adalah yang disahihkan Imam Nawawi.”

Kenapa? Karena Imam Nawawi memiliki qulb (hati) yang spiritualitasnya lebih tinggi dibanding Imam Rafi’i. Imam Nawawi menjadi wali quthb (pemimpin para wali) selama 3 tahun 4 bulan, jadi batin syariahnya lebih luar biasa. Sampai pada di sini kita dapat melihat bahwa para ulama jaman dahulu memiliki pandangan yang jauh lebih dalam untuk menggolongkan mana yang qoul rajah, arjah, shahih, ashah, dan mu’tamad. Tidak hanya mengelompokkannya sesuai tingkat kealiman (karena para ulama alimnya sudah luar biasa), namun sampai pada mempertimbangkan tingkat spiritualnya.

Di kalangan para ulama, Imam Suyuthi bertemu dengan Baginda Rasulullah 70 kali yaqodzhoh (mata telanjang). Semua itu karena tingkat martabat kewalian beliau yang agung di hadapan Allah. Sebenarnya Imam Suyuthi sudah pada tingkat mujtahid muthlak seperti Imam Syafi’i yang kita kenal dengan bapak Madzhab Syafi’i, tapi beliau lebih memilih bermadzhab Syafi’i. Imam Suyuthi lebih memilih ittiba’ (mengikuti) madzhab Imam Syafi’i daripada mendirikan madzhab baru, karena lebih baik mengikuti dan mengembangkan yang sudah ada daripada membuat yang baru.

Sikap rendah hati (tawadlu’) seperti ini sudah jarang di jaman sekarang.