Ngaji

Berumah Tangga Harus Siap Kecewa

KH Henri Sutopo, Santri KH Ali Maksum, tinggal di Krapyak

Habis Ngaji Jum’at sore di rumah sudah nunggu tamu suami – isteri pakai mobil Fortuner baru. Wong sugih (orang kaya_red) bawa rejeki Jum’at berkah, batinku…

Dari penampilannya, pasangan muda itu kelihatan turah duit (uangnya banyak_red). Mereka minta nasehat tentang rumah tangganya yang “KISRUH”, bahkan mau bubar! Masing-masing bergantian curhat dengan versinya, yang intinya merasa sudah tidak ada kecocokan lagi.

Akupun lantas bertaushiyah. Bahwa hidup di dunia ini harus siap kecewa, siap mangkel, siap kekurangan, siap ora keturutan (tidak terpenuhi keinginan_red), siap bermasalah, dan siap tidak enak yang lain.

Sama pula ketika orang memutuskan untuk berumah tangga, ya harus siap menghadapi hal-hal di atas. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, isteri sempurna, suami yang tidak ada cacatnya…, naif ada!

Man tholaba zaujatan bilaa ‘aibin baqiya bilaa zaujatin…, ini omonganku sendiri, bukan hadits…, bahwa barang siapa nyari isteri yang tidak ada cacatnya, janganlah beristeri. Demikian sebaliknya.

Maka kunci kebahagian berumah tangga menurutku sederhana. Lihat kelebihannya, terima kekurangannya, pegang kebaikannya, buang kejelekannya.

Kalau pingin hidup enak dan seneng terus, jangan di dunia. Tunggu nanti kalau sudah mati, lalu masuk surga. Ya kalau masuk surga, kalau ndak?  Di surgalah segala keinginan dan kesenangan akan keturutan (terpenuhi_red). Lakum fiihaa maa tasytahi anfusukum walakum fiihaa maa tadda’uun.

Taushiyahku kelihatannya bisa diterima mereka berdua. Si Suami nunduk terpaku, sedang isterinya menangis. Akhirnya berdua minta pamit, sang isteri yang gelang emasnya setengah kilo, lantas membuka tasnya yang mahal imporan. Pikirku mau ambil amplop tebal, ternyata cuma ambil tissue untuk ngelap air matanya, sambil ngomong: “Terima kasih Kyai atas nasehatnya, kapan-kapan kami sowan lagi!..,” hehehe.

donasi bangkit

Tambah komentar

Klik untuk komentar

Advertisement

Fans Page

Advertisement