muhasabah
Opini

Bencana, Teguran untuk Bermuhasabah

Bumi Pertiwi kembali dilanda duka mendalam atas musibah bencana alam gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Palu, Sulawesi Tengah. Ribuan korban meninggal dan luka-luka terus saja ditemukan selama evakuasi. Padahal masih belum pulih luka rakyat Indonesia atas duka yang menimpa Lombok. Indonesia memang berada dalam kawasan ring of fire dimana Indonesia berada di daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi.  Tercatat dalam BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) Indonesia rata-rata mengalami gempa bumi sebanyak 4.500 kali per tahun. Gempa yang terjadi pun tidak hanya sekali guncangan sewaktunya, namun terkadang ada gempa susulan seperti yang baru saja melanda Kota Palu.

Bangunan yang berdiri kokoh, tempat wisata yang indah dan jalanan lurus yang membentang perkotaan, kini semua telah rata dengan tanah. Membuktikan bahwa kuasa Allah itu sangatlah nyata. Kun Fayakun, apa yang Allah kehendaki maka akan terjadi. Dan itulah yang sedang kita rasakan saat ini. Meskipun kita tidak berada satu lokasi dengan para korban bencana, kita sebagai rakyat Indonesia terutama sebagai seorang yang beragama Islam sudah sepantasnya kita ikut berduka. Telah ratusan bencana alam melanda negara kita tercinta ini dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, tanah longsor dan berbagai macam bencana alam lainnya.

Apa yang terjadi di muka bumi ini adalah atas kehendak Allah SWT. Kita sebagai makhluknya hanya bisa menerima semua takdir yang telah tertulis di Lauhul Mahfudz. Namun kita diberi kesempatan untuk berupaya menjadi lebih baik atau lebih buruk. Seperti yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 11

ان الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بانفسهم

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.

Kita tidak bisa menyalahkan dan jangan sampai kita marah kepada Allah SWT atas musibah yang menimpa. Telah banyak cerita terdahulu yang dapat kita jadikan pelajaran. Allah berikan bencana pada mereka yang menentang-Nya, seperti kehancuran umat Nabi Nuh AS atau laknat Allah SWT atas kaum Nabi Luth AS dan masih banyak lagi. Kisah-kisah atau cerita para Nabi dan sahabat yang diabadikan tentunya diharapkan untuk bisa dijadikan sebagai pelajaran.

Bisa jadi bencana yang sekarang ini sedang kita hadapi adalah bentuk teguran Allah pada kita. Banyak alasan yang bisa dijadikan sebab terjadinya bencana. Salah satunya adalah kita seakan terbuai dengan perkembangan zaman. Mulai meninggalkan sunnah-sunnah dan syariat yang Allah perintahkan pada kita. Atau bisa jadi, kurang bersyukurnya kita terhadap nikmat rezeki yang Allah berikan. Bencana yang terjadi, kita jadikan peringatan bahwa Allah masih sayang dengan kita, memberikan kita kesempatan untuk bermuhasabah. Introspeksi diri atas apa yang telah kita lakukan terdahulu. Jika asalnya tidak baik, maka berubah menjadi baik. Atau dari yang asalnya baik menjadi lebih baik lagi. Dalam Al-Qur’an Allah perintahkan hamba-Nya untuk bermuhasabah, yang terdapat pada Surat Al Hasyr ayat 18

يايهاالذين امنوااتقالله ولتنظرنفس ماقدمت لغد واتقواالله انالله خبير بما تعملون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Namun yang perlu diingat, jangan sampai bencana berhenti muhasabah kita juga ikut berhenti. Karena muhasabah tidak hanya berlaku ketika kita mendapat ujian dari Allah SWT saja melainkan kesempatan kita untuk terus memperbaiki diri untuk mendapatkan kebahagiaan di akhirat nanti.

*) Oleh : Nuha Fidaraini, Mahasiswi Magang UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement