Pendidikan

Belajar di MINU, Tsaqib Tidak Mau Lagi Nonton TV

sakib 1

Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh*

Ketika kokok ayam sudah mulai meredup, namun matahari tak lagi malu-malu memamerkan sinarnya dan suara burung mulai bersahutan, Tsaqib anak bungsu saya mulai bangun. Dia membereskan tempat tidurnya, walau masih tetap berantakan. Kemudian dia menuju kamar mandi. Selesai mandi saya membantunya memakaikan seragam sekolah sambil mengobrol ringan.

“Ibu koq gak bangunin aku. Aku kan belum sholat shubuh. Ini sholatnya sudah qodhoan ya?”

Spontan saya terkejut, karena biasanya sebelum dia sekolah, saya tidak pernah berhasil ketika menyuruhnya sholat shubuh.

“Maaf Mas Tsaqib, tapi tidak apa-apa ini masih jam enam jadi masih boleh.” Jawabku menenangkannya.

“Besok aku di bangunin holat shubuh ya bu.” Katanya lagi membuat saya semakin terharu dan dengan cepat aku anggukkan kepala.

Ya, memang perubahan positif sudah menyentuh Tsaqib, setelah dia menjadi siswa kelas 1 Madrasah Ibtidiyah Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta. Madrasah ini lebih dikenal dengan sebutan MINU. Madrasah ini baru berjalan selama tiga tahun, berdiri pada Juni 2015. Karena Madrasah ini adalah lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Nurul Ummah, maka nuansa kepesantrenan sangat terasa dalam pola pendidikannya.

Madrasah ini memiliki program unggulan yakni selain menerakan pendidikan karakter, juga menerapkan program tahsin (proses belajar membaca al-Qur’an dengan baik) dan tahfidz (proses menghafal al-Qur’an). Nah, program pendidikan karakter inilah yang membantu membentuk anak berakhlak mulia.

Setiap pagi saya atau suami mengantar Tsaqib sekolah, di sana anak-anak sudah siap berdiri di halam sekolah kemudian membacakan asmaul husna bersama-sama. Setelah selesai, anak-anak menuju masjid pesantren dan melaksanakan sholat sunnah Dhuha.

Ketika saya bertanya tentang alasan kegiatan tersebut kepada Muhammad Alim Kahfi atau biasa kami panggil Pak Kahfi, dia menjawab “Pembiasaan membaca asmaul husna di pagi hari agar semua siswa terbiasa melafalkan asma Allah, harapannya semoga anak-anak dipermudah dalam belajar, sehingga mereka mampu menangkap materi pelajaran dengan baik.” Kata Pak Kahfi yang selaku Kepala Madrasah

Sesekali saya mendengar anak-anak menyanyikan tembang-tembang Jawa yang sarat akan makna. Tsaqib juga terkadang sambil bermain dengan adiknya, dia melantunkan tembang tersebut. Salah satunya seperti ini;   “Padhang bulan padhange kaya rino, rembulane sing awe-awe, ngelengake aja pada turu sore, kene tak ceritani kanggo seboh mengko sore.” Ada juga “ijek cilik di ulang ngaji, mbesok gede supoyo ngerti, ngaji iku gampang syarate, angger manut karo gurune.”

Begitulah salah satu cara guru-guru MINU untuk mengenalkan bahasa dan budaya bangsa. Menanamkan nilai-nilai budaya kepada anak memang metode yang cukup manjur. Mereka akan mengenal dan melestarikan budaya tersebut. Karena mereka adalah aset bangsa.

Selain itu, program tahsin dan tahfidz ini membuat saya terharu. Memang Tsaqib sudah belajar membaca Al-Qur’an sejak usia 3 tahun, dan beberapa surat sudah saya ajarkan untuk dihafal, akan tetapi baru 3 bulan Tsaqib sekolah di MINU dia sudah mampu membaca al-Qur’an dengan baik dan menghafalkan juz 30.

Madrasah ini memang memiliki dua kurikulum, yakni kurikulum dari pemerintah dan kurikulum pesantren. Akan tetapi kedua kurikulum ini terintegrasi secara cantik, sehingga pendidikan agama sejak dini diajarkan, namun pengetahuan pendidikan sekolah dasar pun diajarkan secara baik.

Guru, Pintu Arah Pendidikan

Bangsa yang tidak mempunyai isi-hidup dan arah-hidup adalah bangsa yang hidupnya tidak dalam, bangsa yang dangkal, bangsa yang cetek, bangsa yang tidak mempunyai levensdiepte sama sekali.”

Saya teringat dengan pernyataan Bung Karno, ini sangat tepat untuk menjadi refleksi kita semua di tengah tantangan dunia teknologi informasi hari ini yang begitu pesat. Bung Karno mewanti-wanti agar semua elemen bangsa serius dalam membangun “isi-hidup” dan “arah-hidup” bagi anak bangsa. Dalam hal ini pendidikan mempunyai tugas paling depan untuk membangun “isi-hidup” dan “arah-hidup” tersebut. Dari rahim pendidikan, bangsa ini bisa keluar dari jebakan kedangkalan.

Orang tua mendidik di rumah, dan guru mendidik di sekolah. Baik orang tua maupun guru memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun bangsa. Bisa diibaratkan jika orangtua adalah kunci masa depan maka guru adalah pintunya.

Di MINU, peran guru sangat penting dan berpengaruh besar dalam perkembangan karakter anak. Bagaimana tidak, anak saya Tsaqib, dia sangat menghormati dan patuh pada gurunya. Nilai-nilai karakter yang diajarkan gurunya di kelas melekat di dalam diri Tsaqib sehingga ketika di rumah dia melakukan sesuai dengan ajaran yang diberikan gurunnya. Salah satunya adalah selalu meminta maaf ketika dia melakukan kesalahan, dan selalu mengatakan “tolong” jika dia meminta kami membantu apa yang dia inginkan.

Beberapa saat yang lalu, dia bermain dengan adikknya dan tanpa dia sadari ketika bermain diamerebut mainan adiknya, seingga adiknya menangis. Ketika saya melihat kejadian itu saya hampir memarahi Tsaqib, namun saya terhenti ketika tiba-tiba dia berkata “Maaf dek, ini dek mainannya. Jangan nagis ya dek.” Saya tersenyum melihat perubahan Tsaqib.

Selain itu, malam hari dalam kehidupan saya berubah. Biasanya sebelum dia bisa membaca, saya yang membacakan cerita untuknya. Tetapi kemudian dia selalu mengatakan “Ibu, aku gak mau tidur kalau aku belum belajar.” Dia membuka buku pelajarannya dan memulai belajar. Ketika saya akan membacakan cerita, segera Tsaqib berkata “Ibu, biar aku baca sendiri ceritanya. Supaya aku pintar membaca.” Begitu katanya.

sakib

Tidak Mau Suka TV

Yang paling menonjol lagi adalah Tsaqib sudah tidak suka menonton TV, sebelumnya dia masih meminta untuk menoton TV atau jika menjelang tidur, akan tetapi sudah tiga bulan ini setelah belajar dia selalu bilang, “Kalau sudah belajar aku mau tidur bu, biar besok bangun pagi. Nggak usah nonton TV. Kata Pak Rahman begitu.” Jelas Tsaqib.

Pernah juga ketika saya menonton TV dan dia mengatakan sesuatu kepada saya, namun saya kurang memperhatikan kata-katanya. Tsaqib sedikit marahdan bilang “Ibu tuh nggak dengerin aku, ibu suka nonton TV aja. Kata Pak Rahman, kalo nonton TV kelamaan nanti jadi bodoh lho.” Spontan saya terkejut seperti mendapat nasehat dari anak kecil. Kemudian saya mematikan TV dan mencoba meminta maaf sambil berusaha meredam rasa kecewanya.

Pak Rahman adalah wali kelasnya. Guru yang memiliki nama panjang Saifur Rohman ini memang menjadi guru favorit bagi siswa-siswanya. Pak Rahman selalu menerapkan sikap disiplin, dan kejujuran bagi siswa-siswanya. Selain itu kegiatan – kegiatan menarik selalu menjadi program cantik di kelasnya. Beberapa waktu lalu, kelas satu melakukan program berkebun. Setiap anak membawa pot bunga dan pak Arhman memberikan benih untuk ditanam. Setiap hari anak-anak diajari untuk merawat tumbuhannya. Ini juga membuat Tsaqib lebih perhatian dengan tumbuh – tumbuhan.

Pak Rahman juga tipe guru yang tidak suka memaksa anak-anak ketika mengajarkan sesuatu. Pelajaran matematika misalnya. Tsaqib termasuk cepat memahami pelajaran matematika, pernah suatu ketika dia sedang mengerjakan PR, dan saat itu dia merasa sedikit kesulitan, saya tidaksadar bilang “Tsaqib, koq gitu aja lama ngitungnya. Ini kan gampang.” Tsaqib menjawab “Ibu tuh sabar, kata Pak Rahman kalau Tsaqib gak bisa, ya gak apa-apa, belajar pelan-pelan.” Saya pun kemudian merasa malu pada diri sendiri, kenapa jadi sayayang tidak sabar, hehehe…

Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Entah apa yang harus saya sampaikan kepada guru-guru MINU. Betapa saya bersyukur kepada Allah SWT. Saya merasa tepat menjadikan MINU adalah rumah pendidikan kedua untuk anak saya. Pendidikan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan kami sebagai orang tua untuk menyiapkan generasi masa depan. Karena anak adalah aset orang tua dan bangsa.

Pepatah “guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” adalah benar. Walapun mereka diberi gaji atau tunjangan dari lembaganya, namun yang telah mereka curahkan kepada siswa-siswanya adalah melebihi gaji ataupun tunjangan tersebut. Bahkan kami sebagai orang tua tidak mampu membalas jasa beliau.

Menuliskan cerita ini pun belum membuat saya mampu membayar apa yang telah diberikan mereka kepada anak saya. Tak terasa sudah beberapa jam saya menulis tentang MINU dan guru-guru MINU, air mata saya menetes namun senyum saya merekah. Terima kasih, terima kasih, sekali lagi dengan tulus kami mengucapkan terima kasih setulus hati kami untuk segala yang telah diberi kepada anak-anak kami.

Khoirunnas anfauhum linnas”. Manusia terbaik adalah yang memberi manfaat bagi manusia lain. Manusia sukses adalah yang bisa mensukseskan orang lain. Guru-guru MINU adalah orang-orang yang memberi arti bagi saya dan anak saya, juga bagi murid dan wali murid MINU lainnya. Dengan arti itu, kami bahagia dan belajar tanpa henti.

* Guru TPA Masjid Az-Zahrotun Wonocatur Banguntapan Bantul.