Pendidikan

Bagaimana Sikap Murid kepada Guru?

kh kafa dg mbah dim kendal

 

Menjalani tahun ajaran baru 2017/2018 terasa begitu menyenangkan. Semua satuan pendidikan sibuk dengan agenda yang beragam. Orang tua juga berduyun-duyun mengantarkan anaknya ke sekolah. Banyak bekal dan fasilitas yang disiapkan untuk siswa, tetapi jangan sampai lupa menyiapkan dan mendidik akhlaq anak kepada guru. Kenapa? Karena guru adalah ujung tombak dalam sukses berpendidikan. Jangan sampai sedetikpun meremehkan guru. Di tangan guru, masa depan anak menjadi taruhan.

Berikut ini adalah kiat sukses menjadi murid dalam membangun berkakhlaq kepada guru. Tips sukses ini ditegaskan oleh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Pesantren Tebuireng Jombang yang juga pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama’ (NU). Simaklah dengan seksama.

Pertama, dalam memilih figur seorang guru, hendaknya seorang pelajar mempertimbangkan terlebih dahulu dengan memohon petunjuk kepada Allah tentang siapa yang orang yang dianggap paling baik untuk menjadi gurunya dalam menimba ilmu pengetahuan dan membimbing terhadap akhlak yang mulia. Jika memungkinkan, ia hendaknya berupaya mencari guru yang benar-benar ahli di bidangnya, memiliki kecakapan dan kredibelitas yang baik dan memiliki kemampuan yang cukup baik dalam memberikan pengajaran serta memiliki pemahaman yang mendalam di bidangnya.

Sebagian ulama salaf mengatakan:

هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

”Ilmu adalah agama, maka hendaknya kalian melihat (mempertimbangkan terlebih dahulu) kepada siapakah kalian mengambil agama kalian itu (menimba ilmu pengetahuan).”

Kedua, bersungguh-sungguh (berusaha keras) dalam mencari seorang guru yang diyakini memiliki pemahaman ilmu-ilmu syariat (agama Islam) yang mendalam serta diakui keahliannya oleh guru-guru yang lain. Seorang guru yang baik adalah orang yang banyak melakukan kajian (pembahasan/penelitian), perkumpulan (berdiskusi), serta bukan hanya orang yang mempelajari ilmu hanya melalui buku (tanpa melalui bimbingan seorang guru) ataupun dia tidak pernah bergaul dengan guruguru lain yang lebih cerdas. Imam as-Syafi’i berkata:

من تفقه من بطون الكتب ضيع الاحكام

“Barang siapa mempelajari ilmu pengetahuan yang hanya melalui buku, maka ia telah menyia-nyiakan hukum”.

Ketiga, seorang pelajar hendaknya patuh kepada gurunya serta tidak membelot dari pendapat (perintah dan anjuran-anjurannya). Bahkan idealnya, sikap seorang pelajar kepada gurunya adalah laksana seorang pasien kepada seorang dokter yang ahli dalam menangani penyakitnya. Oleh karena itu, ia hendaknya selalu meminta saran terlebih dahulu kepada sang guru atas apapun yang akan ia lakukan dan serta berusaha mendapatkan restunya.

Keempat, memiliki pandangan yang mulia terhadap guru serta meyakini akan derajat kesempurnaan gurunya. Sikap demikian akan mendekatkan keberhasilan seorang pelajar dan meraih ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Diriwayatkan dari Abu Yusuf bahwa sebagian ulama salaf pernah berkata:

من لا يعتقد جلالة استاذة لا يفلح

“Barang siapa tidak memiliki tekad memuliakan guru, maka ia termasuk orang yang tidak beruntung”

Kelima, sebagai wujud penghormatan seorang pelajar kepada seorang guru, diantaranya adalah tidak memanggil gurunya dengan panggilan “ kamu”, “Anda” dan lain sebagainya, termasuk memanggil nama langsung gurunya itu.’ Apabila ia hendak memanggil gurunya, hendaknya ia memanggil dengan sebutan “ ya sayyidi ( wahai tuanku)”, “ ya ustadzi ( wahai Guruku)”, dan sejenisnya.

Keenam, mengerti akan hak-hak seorang guru serta tidak melupakan keutamaankeutamaan dan jasa-jasanya. Selain itu ia hendaknya selalu mendo’akan gurunya baik ketika gurunya itu masih hidup ataupun telah meninggal dunia (wafat), serta menghormati keluarga dan orang-orang terdekat yang dicintainya.

Ketujuh, bersabar atas kerasnya sikap atau perilaku yang kurang menyenangkan dari seorang guru. Sikap dan perilaku guru yang semacam itu hendaknya tidak mengurangi sedikitpun penghormatan seorang pelajar terhadapnya apalagi sampai beranggapan bahwa apa yang dilakukan oleh gurunya adalah suatu kesalahan.

Kedelapan, meminta izin terlebih dahulu setiap kali hendak memasuki ruangan pribadi guru, baik ketika guru sedang sendirian ataupun saat ia bersama orang lain.

Kesembilan, apabila seorang murid duduk dihadapan seorang guru, hendaknya ia duduk dengan penuh sopan dan santun.

Kesepuluh, hendaknya murid berbicara dengan sopan terhadap gurunya sebaik mungkin.

Kesebelas, jika murid mendengarkan penjelasan guru tentang hukum suatu masalah atau tentang suatu faedah, atau guru menceritakan kisah tertentu atau menyanyikan syair yang sudah dihafalnya, maka hendaknya ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan penuh antusias seolaholah belum pernah mendengarkannya. ‘Atha r.a. berkata: “ Sungguh aku akan mendengarkan hadits dari seseorang, walaupun aku lebih tahu tentang hadits itu darinya, aku akan memperlihatkan diriku bahwa aku tidak lebih baik darinya”. Lebih lanjut Atho’ berkata: sesungguhnya ada beberapa pemuda yang sedang berdiskusi tentang sebuah hadits, lalu aku mendengarkannya seakan-akan aku belum pernah mendengar hadits itu sebelumnya, padahal aku telah mendengar hadits itu sebelum mereka dilahirkan”. Jika murid ditanya guru tentang pelajaran yang sudah dihafalnya, maka hendaknya ia tidak menjawab dengan “ sudah”, sebab jawaban ini terkesan murid sudah tidak membutuhkan keberadaan guru, dan juga tidak dengan “ belum”, sebab dengan jawaban ini murid telah berbohong, tetapi hendaknya murid menjawab dengan “ saya sangat senang mendengar penjelasan pelajaran tersebut dari guru” atau “ saya masih ingin menimba ilmu dari guru”.

Keduabelas, tidak mendahului seorang guru dalam menjelaskan suatu persoalan atau menjawab pertanyaan yang diajukan oleh siswa lain. Lebih-lebih dengan maksud menampakkan (pamer) pengetahuan (kepintarannya) di hadapan guru. Hendaknya ia juga tidak memotong pembicaraan/penjelasan gurunya ataupun mendahului perkataannya. Seorang murid juga harus berkonsentrasi ketika diberi penjelasan ataupun ketika diberi perintah, sehingga sang guru tidak perlu mengulanginya dua kali.

Ketigabelas, jika guru memberikan sesuatu kepada murid, hendaknya diterima dengan tangan kanan. Jika sesuatu itu berupa catatan pelajaran, maka hendaknya dibaca, atau berupa cerita, buku agama dan sejenisnya, maka hendaknya disebarluaskan. (m)