pernikahan tak bahagia
Keluarga Maslahah

6 Bulan Nikah Serasa Tak Bahagia, Apa Solusinya?

Assalamu’alaikum…

Saya baru saja menikah 6 bulan yang lalu dengan laki-laki pilhan keluarga. Dia teman ayah saya dan meskipun tidak terlalu akrab, kami semua saling mengenal keluarga masing-masing. Usia saya dan suami  terpaut 15 tahun. Karena yang memilihkan ayah saya dan semua keluarga (ibu, kakak dan adik saya) sangat mendukung perjodohan ini, maka saya mau menikahinya.

Saya melihat dia memiliki figur seperti ayah saya, kebapakan dan bertanggungjawab sehingga tidak dalam waktu lama, kami-pun melangsungkan pernikahan. Saya berharap dapat semakin memahami dan mencintai suami saya. Tapi setelah 6 bulan menikah ini, saya merasa bahwa apa yang saya harapkan dari sosok suami tidak saya dapatkan. Dan cinta saya terhadap suami yang saya harapkan terus tumbuh dan menjadi besar, ternyata tidak juga muncul.

Secara finansial, tidak ada masalah karena uang bulanan yang diberikan suami lebih dari cukup. Apa yang harus saya lakukan? Saat ini ayah saya sudah meninggal, bagaimana jika saya bercerai saat usia pernikahan saya baru 6 bulan? Terima kasih atas jawabannya.

Wassalamu’alaikum … (RM – Jogja)

___________________________

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Terima kasih atas kepercayaannya memanfaatkan Rubrik Konsultasi Keluarga Maslahah LKK PWNU dan Bangkit Media. Sebelum menjawab pertanyaan mbak RM, perlu dipahami bahwa usia pernikahan 6 bulan adalah masa penyesuaian antara suami istri. Apalagi pernikahan mbak RM ini adalah pernikahan yang dijodohkan dan belum terlalu mengenal, sehingga membutuhkan waktu untuk saling mengenal dan memahami. Bisa jadi tidak hanya Mbak RM yang berjuang dan berusaha untuk memunculkan rasa cinta ini, suami juga pasti merasakan dan berusaha untuk melakukan hal yang sama.

Sebaiknya Mbak RM tidak terburu-buru untuk memutuskan bercerai dulu ya, Mbak…. Beberapa hal yang bisa Mbak RM lakukan antara lain :

  1. Setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Suami istri adalah bagaimana saling melengkapi, menutup kekurangan dan mengoptimalkan kelebihan masing-masing untuk membentuk keluarga yang maslahah. Salah satu konsep dalam keluarga maslahah adalah adanya kesempatan untuk memberi manfaat dan mengembangkan potensi yang dimiliki semua anggota keluarga. Diskusikan dengan baik-baik dan penuh kasih sayang, apa yang menjadi kelemahan masing-masing dan bagaimana sebaiknya menyikapinya.
  2. Suami bukanlah ayah istri, tetapi partner yang masing-masing memiliki tanggung jawab. Seorang ayah cenderung mengalah dan merasa bertanggung jawab untuk memenuhi apa yang diinginkan atau diharapkan anaknya. Deskripsikan tanggung jawab yang dimaksudkan oleh Mbak RM sebagai seorang istri dan dia sebagai suami. Apakah yang dimaksud dengan suami yang bertanggungjawab menurut Mb RM…. Apakah dengan memberikan uang bulanan sebesar sekian sudah disebut bertanggungjawab atau ada nila-nilai yang menjadi tanggungjawab dia sebagai suami yang belum Mb RM rasakan? Demikian juga sebaliknya, tanggungjawab seorang istri yang harus dilakukan menurut suami seperti apa… Karena belum memiliki momongan, diskusi tentang hal ini dapat dilakukan dalam suasana yang tenang dan dengan romantisme yang bisa Mbak RM ciptakan. Mb RM juga bisa menyampaikan ke suami, sosok ayah yang mb RM paling rindukan.
  3. Melakukan dan menerima evaluasi yang bermanfaat untuk keutuhan rumah tangga Mb RM. Tidak ada satupun orang didunia ini yang suka untuk dibandingkan dengan orang lain. Demikian juga Mb RM juga pasti tidak ingin dibandingkan dengan orang lain bukan? Karena itu… tujuan evaluasi ini adalah untuk menghindari kejadian yang tidak menyenangkan terulang kembali dan akhirnya membuat suami dan istri enggan untuk malkukan evaluasi karena merasa tidak ada manfaat yang didapatkan dari evaluasi ini.
  4. Bercerai bukan berarti selesai permasalahan. Banyak wanita yang mengalami stress setelah bercerai, meskipun perceraian itu sesuatu yang diinginkannya. Dan bercerai dengan suami yang baru Mb Rm nikahi selama 6 bulan, juga belum tentu mebuat mbak RM menjadi lebih bahagia, bukan? Dari apa yang mbak RM sampaikan, suami tidak memiliki kesalahan dan tidak ada kejadian luar biasa (misalnya seperti KDRT) yang bisa menjadi penyebab perceraian ya. Berilah kesempatan untuk pernikahan ini ya, Mbak.. Lakukan yang terbaik yang Mb RM bisa.
  5. Libatkan Allah dalam semua aktivitas Mb RM. Ajak suami untuk sholat berjamaah, bangunkan untuk sholat tahajud dan lakukan rutinitas untuk tadarus bersama.

Demikian jawaban atas pertanyaan mbak RM. Semoga bermanfaat dan dapat menjauhkan kegalauan yang datang.

Salam Keluarga Maslahah

__________________

*) Rubrik ini dikawal langsung oleh Nurmey Nurul Haq yang akbrab disapa Mbak Rully dan tim Lembaga Kemaslahatan Keluarga (LKK) PWNU DIY, akan tayang di bangkitmedia.com setiap satu minggu sekali. Bagi yang ingin konsultasi seputar keluarga dan anak, bisa mengirimkan pertanyaan ke redaksi@bangkitmedia.com

donasi bangkit

Advertisement

Fans Page

Advertisement